KB

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
- Pengertian Secara Umum
KB adalah usaha mengatur banyaknya jumlah kelahiran sedemikian rupa sehingga bagi ibu maupun bayinya, bagi ayah serta keluarga dan masyarakat yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kelahiran tersebut.
- Pengertian Secara Khusus
KB adalah pencegahan konsepsi atau pencegahan terjadinya pembuahan atau mencegah bertemunya sel mani dari laki-laki dan sel telur dari perempuan sekitar persetubuhan.
- KB adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah kelahiran dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi (Prof. Dr. Rustam, M.MPH, 1998:225).
- Kontrasepsi berasal dari kata ; kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah; pertemuan antara sel telur ( sel wanita ) yang matang dan sel sperma ( sel pria ) yang mengakibatkan kehamilan.
Kontrasepsi adalah ; menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma.

B. Cara Kerja Kontrasepsi
1. Mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi.
2. Melumpuhkan sel sperma
3. Menghalangi pertemuan sel telur dengan sperma

C. Metode Kontrasepsi
1. Metode sederhana
a) Tanpa alat atau tanpa obat.
- Senggama terputus.
- Pantang berkala.
Prinsipnya dari sistem ini adalah tidak melakukan persetubuhan pada masa subur. Ada tiga patokan untuk menentukan masa subur, yakni :
1. ovulasi, terjadi 14 + 2 hari sebelum haid yang akan dating
2. sperma dapat hidup (viable) dan membuahi dalam waktu 48 jam setelah ejakulasi
3. ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi
Jadi, jika kontrasepsi ingin dicegah koitus harus dihindarkan sekurang-kurangnya 3 hari (72 jam) yaitu 48 jam sebelum ovulasi dan 24 jam setelah ovulasi terjadi.
Untuk menentukan masa aman perlu dilakukan :
1. mencatat lamanya daur haid selama 3 bulan terakhir
2. tentukan lamanya daur haid terpendek dan terpanjang, kemudian daur haid terpendek dikurangi 18 hari dan daur haid terpanjang dikurangi 11 hari
3. dua angka yang peroleh merupakan masa subur
4. dalam masa subur tersebut harus dilakukan abstinensia, diluar waktu tersebut merupakan masa aman.
b) Dengan alat atau dengan obat
- metode barier :
• Kondom
Alkon berupa selubung karet tipis dengan atau tanpa spermisid dipasang pada penis untuk menghalangi masuknya spermatozoa ke introitus vagina
• Diafragma atau cup servix
Barier sebagai penghalang sperma sehingga sperma tidak masuk ke uterus dan bertemu ovum. Terpasang dari fornix posterior sampai simphysis pubis (menutupi servix).
- kimiawi/spermisid
• Cream, yelly dan cairan berbusa.
• Tablet berbusa ( Vagina tablet )
Preparat mengandung spermisid diletakkan dalam vagina dekat servix dan dengan gerakan-gerakan coitus diharapkan menyebarkan busa meliputi serviks, sehingga secara mekanis menutupi ostium uteri eksternum dan mencegah masuknya sperma ke dalam kanalis servikalis.
2. Metode efektif
 Pil KB
 AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
Alat kontrasepsi yang terbuat dari polyethylen (plastik) yang halus dipasang di dalam rahim.
Macam alat kontrasepsi AKDR
 Lippes Loop yang terbuat dari plastik dan berbentuk spiral.
 Multi load Cu 250, berbentuk jangkar dan dililiti logam tembaga.
 Copper T 200 B, yang terbuat dari plastik halus berbentuk T dililiti logam tembaga.
 Copper 7, yang berbentuk angka 7 terbuat dari plastik yang batangnya dililiti dengan logam tembaga
Cara kerja AKDR
Mengurangi kemungkinan terjadinya nidasi karena AKDR merupakan benda asing didalam uterus yang merangsang terjadinya kontraksi.
Keuntungan menggunakan AKDR
 Efektifitasnya tinggi dan kegagalan kira-kira 2 %.
 Dapat dipakai untuk jangka waktu yang relatif lama.
 Ekonomis
 Praktis.
 Mudah diangkat jika diinginkan
Indikasi penggunaan AKDR
Wanita yang sudah pernah melahirkan.
Kontra Indikasi pemakaian AKDR
 Adanya tanda-tanda kehamilan.
 Infeksi panggul bagian dalam.
 Erosi pada cervix uteri.
 Diperkirakan adanya tumor, tumor rahim, myoma uteri, cavum uteri kurang dari 5 cm.
 Adanya perdarahan pervagina yang belum jelas penyebabnya, perdarahan pada saluran kencing/ infeksi panggul.
 Perdarahan haid yang hebat.
 Alergi terhadap logam/tembaga.
 Adanya kelainan bentuk rahim.
 Adanya keganasan kanker.
Waktu Pemasangan AKDR Yang Tepat
 Waktu haid mulai hari ke 3
 Dua sampai empat hari setelah persalinan atau setelah abortus komplit.
 Empat puluh satu hari setelah melahirkan.
Efek Samping Penggunaan AKDR
 Perdarahan
• Waktu menstruasi relatif lebih banyak
• Sedikit-sedikit (spoting) diluar masa haid.
• Diluar haid yang banyak.
 Eksplusi.
 Nyeri.
 Keluhan suami.
Cara penanggulangan akibat efek samping AKDR
 Bila terjadi akibat samping (perdarahan, ekspulsi, nyeri) ==> rujuk.
 Reinsersi AKDR yang cocok ukurannya.
 Pemberian analgesik sesuai ketentuan.
 Bila disebabkan gangguan benang yang yang menusuk dapat didorong kebagian samping atas mulut rahim (fornix) atau benang dipendekkan seperlunya
Alat-alat untuk pemasangan AKDR
1. Bak steril berisi :
• Duk.
• Sarung tangan
• Kapas basah lysol / sublimat
• Spekulum
• Tenakulum
• AKDR dan inserter
• Gunting
• Lidi berkapas
• Pinset panjang
• Sonde rahim
• Kateter.
2. Nierbekken
3. Bethadin
4. Lampu kepala (head lamp)
Pemeriksaan sebelum pemasangan AKDR
 Pemeriksaan perut (pemeriksaan luar)
 Pemeriksaan dalam (Bimanual), pemeriksaan melalui Vagina
Langkah-langkah pemasangan AKDR
1. Lippes loop
• Calon akseptor diberi penjelasan agar siap mental.
• Kandung kemih ibu terlebih dahulu dikosongkan.
• Siapkan semua peralatan yang diperlukan.
• Calon akseptor berbaring dengan posisi dorsal racumbent, duk dipasang di bawah pantat atas perut.
• Diadakan pemeriksaan dalam untuk menentukan keadaan dan posisi uterus.
• Spekulum dipasang, vagina dan servix dibersihkan dengan kapas lembab.
• Mulut rahim didesinfeksi.
• Kalau perlu, jepit servix dengan tenakulum pada posisi jam 10.00 dan 2.00.
• Sonde rahim dipasang untuk menentukan ukuran, posisi, dan bentuk rahim.
• Inserter yang telah berisi AKDR didorong perlahan-lahan kedalam rongga rahim melalui canalis cervicalis sesuai dengan posisi rahim, kemudian inserter dikeluarkan.
• Jika perlu, dapat menggunakan tenakulum untuk memegang mulut rahim
• Apabila benang AKDR lebih panjang dari 5 cm, gunting.
• Spekulum dilepas dan benang AKDR didorong ke samping mulut rahim.
• Alat-alat dbereskan
• Sebelum akseptor pulang, beri penjelasan mengenai gejal-gejala yang mungkin dialami setelah pemasangan dan cara mengatasinya serta beritahu untuk pemeriksaan ulang pada akhir bulan ke 1, 2, 3 dan 12 atau apabila ada keluhan.
Catatan:
 Bila pada waktu pemasangan terasa ada obstruksi, jangan dipaksa (hentikan) ==> rujuk.
 Bila sonde masuk kedalam uterus dan bila fundus uteri tidak terasa, kemungkinan terjadi perforasi. Keluarkan sonde ==> rujuk segera.
 Panjang rongga uterus 6 -7 cm jika kurang dari 5 cm AKDR jangan dipasang.
 Lippes loop tidak boleh lebih dari 2 menit di dalam inserter.
 Apabila ada indikasi untuk melepas AKDR, dapat dilaksanakan dengan menarik benangnya perlahan-lahan menggunakan klem dibawah perlindungan spekulum.
2. Copper T
• Bukalah bungkus copper T, cukup separuh saja dimulai dari ujung dan jagalah agar AKDR tertutup dengan bungkus plastiknya.
• Masukkanlah pendorong (plunger) kedalam lobang pemasang
• Ukur alat pemasang sampai batas biru (untuk batas servix), sesuai dengan panjang rahim (uterus) sewaktu melakukan pengukuram rahim dengan sonde.
• Masukan cooper T kedalam alat pemasang sesuai batas pada alat pemasang
• Dengan memakai sarung tangan karet kecil ,bukalah seluruh bungkus plastic dan lipatlah sisi-sisi sayap T dan masukkan kedalam alat pemasang sampai 0,6 cm.
• Hati-hati dan yakinkan agar sayap T didalam alat pemasang dalam kedudukan bidang horizontal yang sama dengan batas biru (untuk servix)
• Peganglah tenakulum dengan tangan kiri dan tarik baik-baik kebawah dan keluar, agar rongga rahim , saluran indoservix dan saluran liang senggama menjadi lurus.
• Doronglah alat pemasang copper T masuk kedalam rahim sampai batas biru
• Jangan lupa agar batas biru ada pada bidang horizontal
• Peganglah ujung bawah dari alat pemasang dengan tangan kiri dan cincin pendorong dengan tangan kanan, bersamaan dengan tarikan yang tetap pada tenakulum, dorong AKDR tidak boleh bergerak peganglah terus pada tempatnya.
• Tarik alat pemasang perlahan-lahan, dengan demikian akan meninggalkan Copper T dengan letak yang diinginkan.
3. Multi Load (ML ) cu 250
• Setelah pemeriksaan dalam, untuk menentukan bentuk, besar dan kedudukan rahim.
• Masukkan spekulum, bersihkan liang senggama dengan larutan antiseptik, olesi portio dengan jodium 1%.
• Kait bibir depan atau bibir belakang portio dengan cunam peluru, masukkan sonde dan tentukan posisi rahim sekaligus ukuran dalam rongga rahim (jarak antara mulut luar leher uterus dan fundus).
• Jika perlu dilakukan dilatasi dengan hegar nomor 4.
• Cincin pada alat pemasang sesuaikan dengan ukuran dalam rongga rahim.
• Perlahan-lahan masukkan alat pemasang sampai ML Cu 250 menyentuh fundus uteri
• Keluarkan alat pemasang dengan perlahan-lahan dan gunting tali jika terlalu panjang
Cara mengeluarkan AKDR
Siapkan alat-alat seperti pada pemasangan, beritahukan pada akseptor bahwa hal ini tidak akan menimbulkan rasa sakit.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
• Cuci tangan dengan air dan sabun sampai bersih.
• Pasang sarung tangan steril.
• Ambillah korentang dari tempatnya yang steril, kemudian bersihkan vulva dengan kapas yang telah direndam dengan lysol.
• Pasanglah spekulum steril kedalam vagina dan carilah letak benangnya.
• Apabila kelihatan, peganglah benang tersebut dengan korentang dan tariklah perlahan-lahan.

 Suntikan KB
Tersedia 2 jenis kontrasepsi suntik
1. DMPA (Depo Medroxy Progesteron Acetat/Depo Provera)
Diberikan sekali dalam 3 bulan dengan dosis 150 mg IM
2. DEPO NET-EN (Norethindorone Enanthate/Depo Noristerat)
Diberikan dalam dosis 200 mg sekali setiap 2 bulan (8 minggu) IM.
 Susuk KB / Implant ( AKBK)
Adalah alat kontrasepsi berupa kapsul kecil karet terbuat dari silikon, berisi levonorgestrel, terdiri atas 6 (enam) atau 2 kapsul kecil dangan panjang 3 cm sebesar batang korek api yang dipasang dibawah kulit lengan atas bagian dalam wanita.
Cara kerja implant atau AKBK
• Cara tetap melepaskan sejumlah hormon levonorgestrel.
• Mencegah pematangan sel telur sehingga tidak terjadi ovulasi.
Keuntungan pemakaian implant atau AKBK
• sangat efektif dan tidak mempengaruhi ASI karena tidak mengandung estrogen.
• Praktis dapat dipakai selama 5 tahun.
• tidak mengganggu hubungan seksual
• Setelah pemasangan, tidak memerlukan perawatan lanjutan.
• Tepat bagi ibu yang tidak ingin mempunyai anak lagi, tetapi belum siap untuk menggunakan kontrasepsi mantap.
• Mudah diangkat jika diinginkan.
Indikasi pemakaian implant atau AKBK.
Ibu yang sehat dan tidak ingin hamil selama 5 tahun.
Kontra indikasi pemakaian implant atau AKDK.
• Hamil atau diperkirakan hamil.
• Diabetes mellitus / penyakit endokrin lainnya.
• Penyakit kardiovaskuler.
• Tomur / keganasan.
• Psikosis, neurosis.
• perdarahan ginekologik yang tidak diketahui sebelumnya
• Ada riwayat mola hidatidosa.
• Varices berat.
Waktu pemasangan Implant atau AKBK yang tepat.
Pada saat menstruasi atau 1-2 hari setelah menstruasi.
Efek sambing pemakaian implant atau AKBK.
• Amenorrhoe.
• Spotting.
• Berat badan menurun / meningkat
• Depresi, mual.
• Migraine.
• Libido menurun.
• Timbul jerawat.
Cara menanggulangi efek samping Implant atau AKBK.
• Jika terjadi amenorrhoe berikan penyuluhan.
• Jika terjadi spotting berikan pil KB kombinasi 2 tablet per hari selama 2-5 hari, atau ganti pil dengan dosis rendah.
• Jika berat badan menurun, berikan obat / vitamin penambah nafsu makan.
• Bila terjadi infeksi pada bekas luka pemasangan Inflan atau AKBK, rawat luka bila belum berhasil ==> di rujuk.
• Bila terjadi depresi, mual, berikan vitamin B6 50 mg 3 x 1 tablet per hari
• Bila terjadi migraine ==> rujuk.
• Bila libido menurun, anjurkan kontrasepsi non hormonal, rujuk.
• Bila timbul jerawat, anjurkan kontrasepsi non hormonal, rujuk.
Alat-alat yang dipergunakan untuk pemasangan implant
1. Bak steril berisi :
• Spuit dan jarum
• Bisturi bayonet no 11 atau 15.
• Inplant/AKBK 1 set
• Trocar no 10.
• Pinset
• Duk lobang
• Sarung tangan
• Lidi kapas.
2. bethadin
3. Nierbekken.
4. lidocain ==> anestesi lokal.
5. verban.




Cara pemasangan.
• Suci hamakan daerah pemasangan ± 3 jari diatas lipatan siku kanan untuk yang kidal, lipatan siku kiri untuk yang umum (tidak kidal)
• Pasang duk berlobang.
• Lakukan anestesi lokal menyeluruh di daerah yang akan dipasang Implant / AKBK.
• Dengan bisturi, lakukan sayatan hingga dibawah kulit (jangan terlalu dalam dan jangan terlalu dangkal ), selebar 1 cm.
• dengan trocar, masukkan Implant/AKBK dibawah kulit. Mula-mula pasang yang tengah, selanjutnya pasanglah yang lain sepertu bentuk kipas.
• Sucihamakan lagi, kemudian tutup dengan plestar dan kasa steril serta dibalut. Balutan jangan dibuka dan jangan sampai basah selama 2 hari.
• Kontrol dilakukan bila ada keluhan-keluahan.
Melepas Implant / AKBK
• Tentukan posisi implant dengan palpasi, lalu lakukan tindakan aseptic dan antiseptik setelah itu lakukan anastesi lokal pada tempat insersi dengan bentuk seperti kipas.
• Lakukan sayatan 2-3 mm, agar luka tidak perlu dijahit dan mengurangi kemungkinan terjadi infeksi.
• Tekan implant dengan jari kearah sayatan, setelah ujung implant tampak jepit dengan pean dan tarik.
• bersihkan implant dari jaringan yang menutupi ujungnya dengan menggunakan scalpel.
• Jepit ujung implant yang telah dibersihkan dengan pean yang lain, tarik implant perlahan-lahan sampai terlepas seluruhnya.
• Lakukan hal yang sama sampai semua implant (baik 6 atau 2 batang) dikeluarkan, rapatkan luka, tutup dengan plester, kasa steril dan balut dengan verban.
3. Metode Kontap Dengan Cara Operasi (Kontrasepsi Mantap)
• Tubektomi ( pada wanita)
• Vasektomi ( pada Pria )
Adalah merupakan suatu kontrasepsi dengan cara memotong atau mengikat kedua saluran telur pada wanita (tubektomi) atau disebut medis operatif wanita (MOW) dan pemotong atau mengikat kedua saluran sperma pria (Vasektomi) atau disebut juga Medis Operatif Pria (MOP)
Cara kerja Kontrasepsi mantap
Meniadakan pertemuan ovum dengan spermatozoa dengan cara memotong kedua tuba fallopi pada wanita atau kedua saluran sperma (Vasdeferens) pada pria
Keuntungan Kontrasepsi Mantap
• paling efektif dibandingkan dengan semua metode, karena jika sekali sudah dilakukan kontrasepsi mantap berarti selamanya mengakhiri kesuburan (tidak dapat dihubungkan kembali).
• Tidak mempengaruhi vitalitas.
• Meningkatkan libido terutama pada wanita.
Indikasi penggunaan Kontrasepsi Mantap
• Sudah mempunyai anak sesuai dengan keinginan.
• Kesehatan ibu tidak memungkinkan untuk hamil lagi.
• Tidak adak metode kontrasepsi yang cocok.
Kontra indikasi kontrasepsi Mantap
• Calon akseptor menderita tumor atau kanker genitalia.
• Adanya peradangan kulit, hernia, hydrocele testis, tanda-tanda orchitis.
• Gangguan sistem pembuluh darah
• Diabetis melitus
• Gangguan kehidupan perkawinan (impotensi, homoseks).
• Salah satu pasangan tidak setuju.
Efek samping penggunaan Kontrasepsi Mantap
• Haematoma/ perdarahan pada luka bekas operasi.
• Timbulnya radang setempat
• Pengaruh psikologis (pusing, cepat marah, dll)
Cara penanggulangan efek samping Kontap
• Efek samping ringan umumnya akan hilang sendiri.
• Perdarahan yang banyak, peradangan ==> Rujuk.
• Bimbingan dan penyuluhan
Alat yang digunakan untuk pelaksanaan Kontap
1. Tubektomi (Minilap)
Satu bak steril berisi :
• Duk berlobang
• Tiga baju operasi
• Tiga handuk kecil
• Empat klem penjepit kain
• Kasa di dalam mangkok secukupnya
• Larutan detol ditempatnya
• Dua tampon tang penjepit kasa.
• Dua klem alis
• Satu tenakulum.
• Satu kanula hulka.
• Satu semprit 10 cc dengan xylocaine 1 %
• Satu skalpel dan pisau yang runcing (No. 11)
• Satu jarum verres
• Satu trocar dan selubungnya dengan diameter 10-12 mm.
• Satu laparoskope.
• Satu klem bila menggunakan cauter atau aplikator falope Ring bila menggunakan cincin falope.
• Satu pemegang jarum, jarum kecil, catgut.
• Satu gunting.
• Dua pinset operasi
• Satu pinset anatomis.
• Satu elektroda dan kabelnya.
• Penutup luka.
Alat dan obat lainnya :
• Satu kabel penyalur cahaya.
• Satu tabung gas O2 dan pipa penyalur gas O2.
• Satu alat yang berisi sumber cahaya, alat insuflator, alat elektrokoagulasi.
• Bethadin.
• Tempat alat yang kotor.
2. Vasectomi
Bak steril berisi :
• Dua buah duk klem untuk memegang vasdeferens.
• Satu buah pinset anatomi kecil.
• Satu buah pinset chirurgi kecil.
• Satu buah nald volder.
• Dua buah arteri klem lengkung.
• Dua buah arteri klem lurus.
• Dua buah gunting kecil lengkung sedang.
• Satu buah bisturi.
• Dua pasang sarung tangan.
• Catgut
• Satu helai duk berlobang.
• Jarum jahit.
• Dua helai barak schort.
• Dua buah masker.
• Gas secukupnya.
• Deppers secukupnya.
Alat dan obat lainnya :
• Tensoplast
• Spoit 2 ½ cc
• Bethadin / alkohol.
• Lidocain 2 %
• Kapas alkohol
• Nierbekken / tempat alat yang kotor.
3. Persiapan fisik calon akseptor.
• Pada jam 22.00 sebelum operasi diharuskan minum obat pencahar ringan setelah makan malam dan puasa sampai sat operasi.
• Calon akseptor tidak dibenarkan memakai cat kuku.
• Rambut kemaluan harus dicukur serta daerah perut dan kemaluan dicuci dengan sabun.
4. Tindakan operasi dilaksanakan oleh dokter kandungan


BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Subyektif
1. Identitas
Yang dikaji meliputi biodata istri dan suami mulai dari nama, umur, suku, agama, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.
2. Keluhan Utama
Dikaji keluhan klien yang berhubungan dengan penggunaan KB (jika akseptor pernah menggunakan kontrasepsi tertentu sebelumnya) antara lain amenorea/ perdarahan tidak terjadi, perdarahan bercak, meningkatnya/ menurunnya BB.
3. Riwayat KB
Dikaji apakah klien pernah menjadi akseptor KB dan sudah berapa lama menjadi akseptor KB tersebut.
4. Riwayat Obstetri Lalu
Dikaji riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.
5. Riwayat Menstruasi Lalu
Dikaji menarche pada umur berapa, siklus haid, lamanya haid, sifat darah haid, dysmenorhea atau tidak, flour albus atau tidak.
6. Riwayat Kesehatan dan Riwayat Klien
Dikaji apakah klien menderita penyakit jantung, hipertensi, kanker payudara, DM, dan TBC.
7. Riwayat Kesehatan dan Penyakit Keluarga
Dikaji apakah keluarga klien ada yang menderita penyakit jantung, DM, TBC, hipertensi dan kanker payudara.
8. Pola Kehidupan
Dikaji meliputi pola nutrisi, pola eliminasi, pola istirahat, pola aktivitas, pola aktivitas seksual, pola personal hygiene, dan kebiasaan sehari-hari.


Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Meliputi pemeriksaan pada tekanan darah, nadi, pernafasan, BB, TB, suhu badan, kesadaran.
2. Pemeriksaan Fisik
• Wajah : dilihat adanya bercak hitam (chloasma) adanya oedema, conjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterus.
• Leher : diraba adanya pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe, adanya bendungan vena jugularis.
• Dada : dilihat bentuk mammae, diraba adanya massa pada payudara.
• Genetalia : dilihat dari condiloma aquminata, dilihat dan diraba adanya infeksi kelenjar bartholini dan kelenjar skene.
• Ekstremitas : dilihat adanya oedema pada ekstremitas bawah dan ekstremitas atas, adanya varices pada ekstremitas bawah.

Selain pengkajian umum (Identitas klien, Riwayat kesehatan, Riwayat obstetri, Pemeriksaan Fisik), pengkajian khusus yang perlu kita lakukan untuk memenuhi peran sebagai edukator dalam pemilihan metode kontrasepsi yang tepat adalah :
1. Pengetahuan klien tentang macam-macam metoda kontrasepsi
2. Pengetahuan tentang teknik penggunaan metoda kontrasepsi
3. Kenyamanan klien terhadap metoda kontrasepsi klien
4. Faktor-faktor pendukung penggunaan metode yang tepat

B. Analisa Data
Kurang pengetahuan tentang keluarga berencana merupakan penyebab tersering dari gangguan fisik, psikologis dan social dalam kaitannya dengan kehamilan yang tidak direncanakan.




C. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang mungkin berdasarkan pengkajian dan data adalah Perubahan Pemeliharaan Kesehatan b.d Kurang Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda Kontrasepsi.
Sedangkan diagnosa keperawatan lain yang dapat timbul yaitu:
1. Resiko konflik pengambilan keputusan b.d alternatif kontrasepsi
2. Rasa takut b.d efek samping kontrasepsi
3. Resiko tinggi infeksi b.d kondisi aktif secara seksual dan penggunaan metoda kontrasepsi
4. Resiko tinggi perubahan pola seksualitas b.d takut hamil
5. Nyeri b.d pemulihan pascaoperasi sterilisasi
6. Resiko tinggi infeksi b.d kerusakan membran mukosa akibat operasi, pemasangan spiral, hormone implant
7. Distress spiritual b.d ketidakcocokan keyakinan agama atau budaya dengan metoda kontrasepsi yang dipilih

D. Intervensi Keperawatan
Pembuatan intervensi berdasarkan diagnose yang diangkat dari hasil pengkajian dan jenis kontrasepsi yang digunakan.
Berikut adalah contoh intervensi pada
Diagnosa : Perubahan Pemeliharaan Kesehatan b.d Kurang Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda Kontrasepsi.
Tujuan ;
Akseptor dapat menggunakan kontrasepsi yang sesuai
Kriteria hasil ;
Setelah dilakukan intervensi, pasangan akan :
1. Menjabarkan dengan benar tentang cara penggunaan metoda kontrasepsi yang dipilih dan pemecahan masalahnya.
2. Dapat menjelaskan tentang efek samping dan komplikasi dari metoda kontrasepsi yang dipilih.
3. Melaporkan adanya kepuasan terhadap metoda kontrasepsi yang dipilih.
4. Menggambarkan metoda lain yang dapat dipakai dan memilih salah satu dari metoda tersebut bila pasangan ingin mengganti metod kontrasepsi.
Intervensi ;
1. lakukan pengkajian secara komprehensif
Rasional ; memperoleh data yang akurat sebagai acuan pemberian tindakan selanjutnya
2. Lakukan pendekatan terapeutik pada klien
Rasional : diharapkan terjalin kerjasama yang baik antar petugas dan klien.
3. Lakukan observasi TTV dan BB
Rasional : diharapkan kondisi klien terpantau selama menjadi akseptor KB
4. beritahukan pada akseptor tentang kontrasepsi yang ideal bagi akseptor sesuai hasil pengkajian
Rasional ; menimimalisir segala efek samping yang dapat timbul
4. Berikan HE tentang efek samping, komplikasi, jadwal kunjungan ulang
Rasional: diharapkan klien mengerti keadaan yang dialami sekarang sehingga dapat menerima perubahan yang ada dan pengetahuan klien bertambah.

Daftar Pustaka

1. Junadi, Purnawan. Dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Kedua. Media Aesculapius. FK UI. Jakarta

2. Hand Out Mata Kuliah Ilmu Kebidanan. 2009. Prodi S1 Keperawatan. STIK Avicenna.

3. Mochtar, Rustam, 1998. Sinopsis Obstetri Operatif dan Sosial Jilid II. Jakarta : EGC

4. Askep Keluarga Berencana. Available from http://wawanjokamblog.blogspot.com/2009/08/askep-kb.html. accesed at January 12, 2010

5. Askep KB. Available from http://anggrekidea.blogspot.com/2007/11/askep-kb-kelompok-a4.html. accesed at January 12, 2010




Related Post:

0 komentar:

Daftar Isi

Welcome to Kumpulan Materi Keperawatan

Bismillah, Alhamdulillah, My Name is Ilham Burhanuddin and my nickname is Ilo and I was born in kendari on Juli 15, 1986. I’m Blogger from Indonesia. I hope all my Posts is usefull for all of you. Thanks for visit here and support me. The text, images and the tutorials themselves are under copyright of their respective author, so you cannot copy them either in english or in any other translated language. Also the Blogger Templates and Widgets provided on this website are licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License, which permits both personal and commercial use. However, to satisfy the ‘attribution’ clause of the license, you are required to keep the footer links intact which provides due credit to its authors.

Social Stuff

  • RSS
  • Twitter
  • Facebook
  • HOME
Info