ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KASUS PATENT DUCTUS ARTERIOSUS ( PDA )

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan Lokakarya Keperawatan 1983 dalam Ali (2002:12) keperawatan adalah pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio – psiko – sosial – spiritual yang menyeluruh ditujukan kepada individu, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Pelayanan keperawatan, diberikan akibat adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan untuk melaksanakan kegiatan hidup sehari – hari. Kegiatan dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan utama (PHC) sesuai dengan wewenang, tanggungjawab, dan kode etik professional keperawatan.
Menurut Undang – Undang RI. No. 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya, yang diperoleh melalui pendidikan perawatan (Ali, 2002:12).
Misi rencana pembangunan kesehatan Indonesia menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan untuk menjamin akses terhadap intervensi yang efektif berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga masyarakat melalui kegiatan yang mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta menjamin agar kesehatan internal dan maternal dipromosikan dan dilestarikan sebagai prioritas program pembangunan nasional.
Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda. ( www.google.com )

Harapan kami adalah agar makalah ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh semua insan kesehatan dalam upaya memberikan praktek keperawatan yang profesional dan membantu menurunkan angka kematian maternal dan neonatal.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian Latar Belakang diatas, maka masalah yang dapat diangkat adalah ” Bagaimana melaksanakan Asuhan Keperawatan Anak Dengan Kasus Patent Ductus Arteriosus ( PDA )? “.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan gambaran dasar mengenai cara untuk menetapkan Asuhan Keperawatan Anak Dengan Kasus “ Patent Ductus Arteriosus ( PDA ) “
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan tentang pengertian, patofisiologi, etiologi, manifestasi klinik, komplikasi dari kasus “Patent Ductus Arteriosus ( PDA )”
b. Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian status keperawatan “Patent Ductus Arteriosus ( PDA )”
c. Mahasiswa mampu menetapkan masalah keperawatan pengkajian data yang dilakukan
d. Mahasiswa mampu membuat rencana asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa yang terjadi pada klien
e. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan asuhan keperawatan yang telah ditetapkan
f. Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
g. Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan secara sistematis dan berkesinambungan

D. Manfaat Penulisan
1. Sebagai masukan bagi perawat dalam merawat pasien anak dengan kasus “Patent Ductus Arteriosus ( PDA )”
2. Untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya mahasiswa keperawatan dengan kasus “Patent Ductus Arteriosus ( PDA )”
3. Sebagai salah satu pengalaman dalam melakukan Asuhan Keperawatan Anak dengan kasus “Patent Ductus Arteriosus ( PDA )”
4. Dapat dijadikan sebagai salah satu sumbangan ilmiah bagi penyajian laporan selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS


1. Pengertian

Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. Kelainan ini merupakan 7% dari seluruh penyakit jantung bawaan. Sering dijumpai pada bayi prematur, insidennya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi ( Betz & Sowden. 2002 : 375 )
Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta (tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah). (Betz & Sowden, 2002 ; 375)
Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital ( bawaan ) dimana tidak terdapat penutupan (patensi) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi (www.google.com)
Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. ( Suriadi, Rita Yuliani. 2001; 235 )

2. Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
1. Faktor Prenatal :
Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
• Ibu alkoholisme.
• Umur ibu lebih dari 40 tahun.
• Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.
• Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.
2. Faktor Genetik :
• Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
• Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
• Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
• Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
(Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita, 2001 ; 109)

3. Patofisiologi

Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan ( fetus ). Hubungan ini ( shunt ) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. Aliran darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu ( melalui vena umbilikalis ) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus. Normalnya duktus arteriosus berasal dari arteri pulmonalis utama (arteri pulmonalis kiri) dan berakhir pada bagian superior dari aorta desendens, ± 2-10 mm distal dari percabangan arteri subklavia kiri.

Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos (tunika media) yang tersusun spiral. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen, berbeda dengan aorta yang memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat ( unfragmented ). Sel-sel otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. Adanya perubahan tekanan, sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu. Duktus arteriosus yang persisten (PDA) akan mengakibatkan pirai (shunt) L-R yang kemudian dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan sianosis. Besarnya pirai (shunt) ditentukan oleh diameter, panjang PDA serta tahanan vaskuler paru (PVR).

4. Manifestasi Klinik
1. Tidak menimbulkan gejala bila PDA kecil. Tanda-tanda CHF muncul pada PDA besar.
2. Murmur kontinyu (machinery) derajat 1 sampai 4/6 terdengar dengan jelas pada ULSB atau daerah infraklavikula kiri yang merupakan petanda khas kelainan ini. Rumble apikal terdengar pada PDA besar.
3. Pulsasi nadi perifer yang lemah dan lebar
4. CHF dan infeksi paru berulang seringkali terjadi pada PDA besar.
5. Penutupan spontan PDA tidak akan terjadi pada bayi aterm.
6. Akan terjadi hipertensi pulmonal dan PVOD bila PDA dibiarkan tanpa tindakan penutupan.
7. Sianosis yang terjadi pada PDA dengan PVOD dikenal sebagai sianosis diferensial oleh karena hanya ekstremitas bawah yang biru sedangkan ekstremitas atas tetap normal.(Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)

5. Komplikasi
a. Endokarditis
b. Obstruksi pembuluh darah pulmonal
c. CHF ( gagal jantung kongestif )
d. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur)
e. Enterokolitis nekrosis
f. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau
displasia bronkkopulmoner)
g. Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit
h. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin).
i. Aritmia
j. Gagal tumbuh
(Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan Pemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular, Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus, pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial.
b. Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus.
c. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung.
(Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)

7. Pemeriksaan Diagnostik
a. EKG serupa dengan kelainan VSD. Pada PDA kecil-sedang dapat terjadi LVH atau normal. CVH bila PDA besar. Atau RVH bila telah terjadi PVOD. bervariasi sesuai tingkat keparahan, pada PDA kecil tidak ada abnormalitas, hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.
b. Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD. Pada PDA kecil bayangan jantung normal. PDA sedang-besar terjadi kardiomegali dan peningkatan PVM. Adanya PVOD akan mengakibatkan ukuran jantung normal dengan pembesaran MPA dan peningkatan corakan vaskulerisasi hilus.
c. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt. Pemeriksaan angiografi biasanya tidak dibutuhkan kecuali bila terdapat kecurigaan PVOD.
d. Ekhokardiografi yaitu rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1,3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1,0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan).
e. Kateterisasi jantung yaitu hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya.
(Betz & Sowden, 2002 ;377)


BAB III
PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA KASUS PATENT DUCTUS ARTERIOSUS
( PDA)

A. PENGKAJIAN
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan. Pusing, rasa berdenyut. Gangguan tidur.
Tanda : Takikardi, gangguan pada TD. Dispnea
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat kondisi pencetus, contoh demam rematik, hipertensi, kondisi
kongenital (kerusakan atrial-septal ). Riwayat murmur jantung, palpitasi. Batuk dengan / tanpa produksi sputum
Tanda : Sistolik TD menurun. Tekanan nadi : penyempitan (SA); luas (IA). Nadi karotid : lambat dengan volume nadi kecil (SA); bendungan dengan pulsasi arteri terlihat (IA). Nadi apikal : PMI kauat dan terletak di bawah kanan dan kiri (IM);secara lateral kuat dan perpindahan tempat (IA). Murmur : murmur sistolik pada area pulmonik (IP). Bunyi renadah, murmur diastolik gaduh (SM). Murmur sitolik terdengar baik pada apek (MR ). Murmur sistolik terdengar baik pada dasar dengan penyebaran ke leher ( SA ).


3. Integritas Ego
Gejala : Tanda kecemasan, contoh gelisah, pucat, berkeringat, fokus menyempit, gemetar.
4. Makanan / cairan
Gejala : Disfagia ( IM kronis ). Perubahan bb. Penggunaan deuretik
Tanda : Edema umum. Hepatomegali dan ascites. Hangat, kemerahan dan kulit
lembab. Pernafasan payah dan bising dengan terdengar krekles dan mengi.
5. Neurosensori
Gejala : Pusing / pingsan karena aktivitas yang berlebihan
6. Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri dada, angina. Nyeri dada nion angina / tidak khas
7. Pernapasan
Gejala : Dispnae. Batuk menetap
Tanda : Takipnae. Bunyi napas mengih. Sputum banyak dan bercak darah
( edema pulmonal ).
8. Keamanan
Gejala : Proses infeksi, kemoterapi radiasi. Adanya perawatn gigi
Tanda : Perawatan gigi / mulut


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan Curah jantung b.d malformasi jantung.
2. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh
tubuh dan suplai oksigen ke sel.
3. Ansietas b.d situasi kritis (perawatan dirumah sakit / tidak adanya dari keluarga)
4. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, kebutuhan pengobatan b.d kurang terpajan pada informasi tentang penyakit PDA.

C. INTERVENSI DAN RASIONAL
Diagnosa Keperawatan 1 : Penurunan Curah jantung b.d malformasi jantung
Intervensi :
1) Pantau TD, nadi apikal, nadi perifer
2) Pantau irama jantung sesuai indikasi
3) Dorong tirah baring dengan kepala tempat tidur ditinggikan 45 derajat
4) Bantu dengan aktivitas sesuai indikasi.
Rasional :
1) Indikator klinis dari keadekuatan curah jantung. Pemantauan memungkinkan deteksi dini terhadap dekomensasi.
2) Distrimia umum pada klien dengan penyakit katup. Distrimia atrium paling umum, berkenaan dengan peningkatan tekanan dan volume atrium.
3) Menurunkan volume darah yang kemabali ke jantung, yang memungkinkan oksigenasi, menurunkan dispnea dan regangan jantung.
4) Melakukan kembali aktivitas secara bertahap mencegah pemaksaan terhadap cadangan jantung.

Diagnosa Keperawatan 2:Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplai oksigen ke sel.
Intervensi :
1) Kaji toleransi klien terhadap aktivitas menggunakan parameter berikut : frekuensi nadi 20 / menit diatas frekuensi istirahat : catat peningkatan TD, dispnea atau nyeri dada : kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat, pusing atau pingsan.
2) Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh penurunan kelemahan atau kelelahan, TD stabil / frekuensi nadi,
3) Perhatikan pada aktivitas dan perawatan diri.
4) Dorong memajukan aktivitas atau toleransi perawatan diri.

Rasional :
1) Parameter menunjukan respon fisiologis klien terhadap stres aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan aktivitas atau jantung
2) Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual
3) Konsumsi O2 miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah O2 yang ada.
4) Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung.
Diagnosa Keperawatan 3 : Ansietas b.d situasi kritis (perawatan dirumah sakit / tidak adanya dari keluarga)
Intervensi :
1) Identifikasi persepsi pengobatan yang di tunjukan oleh situasi.
2) Pantau respon fisik, contoh tachikardi, gerakan berulang, gelisah
3) Berikan tindakan kenyaman contoh, mandi, gosokan punggung, perubahan posisi
4) Libatkan orang terdekat dalam rencana perawatan dan dorong partisipasi maksimum pada rencana pengobatan

Rasional :
1) Alat untuk mendifinisikan lingkup masalah dan pilihan intervensi
2) Membantu kien menentukan derjat cemas sesuai status jantung.
3) Penggunaan evaluasi seirama denga respon verbal dan non verbal Membantu perhatian mengarahkan kembali dan meningkatkan relaksasi, meningkatkan kemampuan koping.
4) Keterlibatan akan membantu memfokuskan perhatian klien dalam arti positif dan memberikan rasa kontrol.
Diagnosa Keperawatan 4 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, kebutuhan pengobatan b.d kurang terpajan pada informasi tentang penyakit PDA.
Intervensi :
1) Jelaskan rasional pengobatan, dosis, efek samping dan pentingnya minum obat sesuai resep contoh diuretik, vasodilator
2) Anjurkan klien minum diuretik harian
3) Diskusikan kebutuhan kien untuk keseimbangan aktivitas dan istirahat
Rasional :
1) Dapat meningkatkan kerjasama dengan terapi obat dan mencegah penghentian sendiri obat dan interaksi obat yang merugiakan
2) Penjadwalan meminimalkan berkemih malam hari atau mengganggu tidur
3) Program aktivitas bertahap yang konsiten dan tepat paling baik untuk meminimalkan kondisi dan kelemahan dan mencegah kelebihan kerja yang dapat meningkatkan beban jantung atau dekompensasi.






E. EVALUASI
Diagnosa Keperawatan 1 : Penurunan Curah jantung b.d malformasi
jantung
Hasil yang diharapkan :
1. Menunjukan penurunan dispnea, nyeri dada
2. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan beban kerja jantung

Diagnosa Keperawatan 2 : Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplai oksigen ke sel.
Hasil yang diharapkan :
1. Menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas
2. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi toleransi aktivitas dan penurunannya dengan efek negatif

Diagnosa Keperawatan 3 : Ansietas b.d situasi kritis ( perawatan dirumah sakit / tidak adanya dari keluarga )
Hasil yang diharapkan :
1. Menyatakan kesadaran normal/ composmentis, perasaan tenang, ansietas tidak ada lagi
2. Melaporkan penurunan / terkontrol
3. Menunjukkan relaksasi


Diagnosa Keperawatan 4 : Kurang pengetahuan tentang kondisi, kebutuhan pengobatan b.d kurang terpajan pada informasi tentang penyakit PDA.
Hasil yang diharapkan :
1. Menyatakan pemahaman proses penyakit, program pengobatan dan potensial
komplikasi
2. Mengidentifikasi perilaku atau perubahan pola hidup untuk mencegah komplikasi
3. Mengenali kebutuhan untuk kerjasama dan mengikuti perawatan.

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan :
a. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan tentang pengertian, patofisiologi, etiologi, manifestasi klinik, komplikasi dari kasus “Patent Ductus Arteriosus ( PDA )”
b. Mahasiswa dapat melaksanakan pengkajian status keperawatan “Patent Ductus Arteriosus ( PDA )”
c. Mahasiswa dapat menetapkan masalah keperawatan pengkajian data yang dilakukan
d. Mahasiswa dapat membuat rencana asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa yang terjadi pada klien
e. Mahasiswa dapat melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan asuhan keperawatan yang telah ditetapkan
f. Mahasiswa dapat mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
g. Mahasiswa dapat mendokumentasikan asuhan keperawatan secara sistematis dan berkesinambungan


B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan :
1. Diharapkan kepada mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan agar dapat mengerti, memahami dan dapat menjelaskan tenatang penyakit Patent Ductus Arteriosus ( PDA ) baik mengenai pengertian, patofisiologi, etiologi, manifestasi klinik, maupun pencegahan serta penerapan Asuhan Keperawatannya.
2. Mahasiswa diharapkan lebih banyak menggali kembali tentang proses penyakit Patent Ductus Arteriosus ( PDA ). Dan ilmu yang didapatkan dapat diterapakan dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Ibu hamil sebaiknya menghindari mengkomsumsi alkohol, obat- obatan penenang atau jamu.
4. Perawat mampu menjelaskan kepada ibu hamil bahwa penyakit Patent Ductus Arteriosus ( PDA ) bisa disebabkan oleh faktor genetik/ keturunan.
5. Dalam upaya penurunan jumlah penderita Patent Ductus Arteriosus (PDA) diharapkan kepada tim kesehatan maupun mahasiswa keperawatan untuk lebih meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat mengenai penyakit Patent Ductus Arteriosus ( PDA ).

DAFTAR PUSTAKA


Ali.Z. 2002. Dasar-dasar Keperawatan Profesional
Anonim. 2001. Buku ajar keperawatan Kardiovaskular. Jakarta : Pusat Kesehatan Jantung Dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita.
Betz.,Sowden., 2002, Keperawatan Pediatrik, Edisi 3, EGC, Jakarta.
Suriadi, Rita Yuliani. 2001, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3, EGC, Jakarta.
http://www. google.com.id. Tanggal Akses 13 Oktober 2009
www.pediatrik.com/ilmiah/Asuhan keperawatan pada patent ductus arteriosus. Tanggal Akses 13 Oktober 2009




Related Post:

0 komentar:

Daftar Isi

Welcome to Kumpulan Materi Keperawatan

Bismillah, Alhamdulillah, My Name is Ilham Burhanuddin and my nickname is Ilo and I was born in kendari on Juli 15, 1986. I’m Blogger from Indonesia. I hope all my Posts is usefull for all of you. Thanks for visit here and support me. The text, images and the tutorials themselves are under copyright of their respective author, so you cannot copy them either in english or in any other translated language. Also the Blogger Templates and Widgets provided on this website are licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License, which permits both personal and commercial use. However, to satisfy the ‘attribution’ clause of the license, you are required to keep the footer links intact which provides due credit to its authors.

Social Stuff

  • RSS
  • Twitter
  • Facebook
  • HOME
Info