Netcut, pemotong koneksi clien hotspot dan penangkalnya


Pernahkah anda merasa koneksi di wifi-hotspot anda lemot bahkan tidak jalan samasekali? Jangan buru-buru berkesimpulan koneksi ke ISP yang bermasalah, karena bisa jadi ada user nakal bin jahil yang berlaku curang menggunakan aplikasi pemutus koneksi dari client ke server.
Adalah Netcut, sebuah aplikasi yang seperti namanya yang memotong akses internet pada public/private WIFI hotspot, ataukah sebuah PC LAN workgroup dari client ke server atau sebaliknya. Program ini pada umumnya dipergunakan oleh pengguna jaringan yang ingin mengambil quota (jatah) bandwith untuk dipakai sendiri tanpa mau dishare kepada client yang lain.
Pencurian bandwith dengan memutuskan koneksi secara teoritis sangat manjur untuk meningkatkan kecepatan akses internet, misalnya sebuah jaringan mendapat jarah 100 Kb/s dan akan dibagi kepada 10 client maka masing-masing client akan memperoleh 10 Kb/s. Dengan Netcut, maka kita bisa memutuskan koneksi 9 client yang lain dan jatah 100 Kb/s akan menjadi milik kita.
Kejam bukan?….
Tidak heran, bila dibeberapa public WIFI hotspot yang pernah saya kunjungi sering saya dapati banyak yang mengeluh tidak bisa conect internet, atau lebih ekstrim lagi user yang perang netcut yang menyebabkan tidak ada satu pun user yang bisa online. Atau sepertipengalaman rekan blogger lain yang hampir terlibat kontak fisik gara-gara netcut sialan :mrgreen:
Penggunaan netcut cukup simpel, cukup memilih IP/Hostname/Mac Address client yang ingin diputuskan koneksinya dan mengklik cut off. User tersebut akan terputus koneksinya dari server sampai kita membebaskannya dari netcut dengan mengklik Resume atau mengganti IP address nya.
Program Netcut itu sendiri bisa didownload DISINI
Tips menangkal serangan Netcut:
  • Jangan Pernah menggunakan Netcut. Sekali orang dirugikan akibat perbuatan anda, maka akan ada dendam. Peace gan!
  • Rubah IP address anda apabila merasa dijahili dengan Netcut.
  • Gunakan Anti Netcut  (tetapi netcut selalu lebih maju dari anti netcut)
  • Hidden komputer dari LAN pake XP antispy
  • Install anti ARP (trial)
  • Rubah  MAC Address

KTI Maternitas : “Studi kejadian efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera pada akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011”.


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Tujuan pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang sehat fisik, mental dan social, sehingga tercapai kesejahteraan masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.Keberhasilan pembangunan pada hakekatnya bergantung pada unsur manusianya. Perkembangan penduduk yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan hasil pembangunan, termasuk pembangunan kesehatan. Oleh karena itu, pengendalian pertumbuhan jumlah penduduk melalui program keluarga berencana menjadi penting adanya ( Depkes RI, 2006).
Program Keluarga Berencana (KB) bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia. Bersama dengan itu, berkembang pula berbagai metode kontrasepsi. Namun tidak semua alat kontrasepsi tersebut bersifat efektif dan aman untuk digunakan. Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena dengan mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan.
Dengan berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian  populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi  serta hak reproduksi. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak- hak dari klien atau masyarakat dalam menetukan pilihan metode kontrasepsi yang diinginkan ( Saifuddin, A.B, 2005).
Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan dan merupakan salah satu dari program KB nasional ini adalah KB suntikan (injectables) dan merupakan salah satu alat kontrasepsi yang berdaya kerja panjang (lama), yang tidak membutuhkan pemakaian setiap hari atau setiap akan senggama tetapi, tetap reversible. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik adalah aman, dapat diandalkan, sederhana, murah dapat diterima orang banyak, pemakaian jangka lama (continuation rate tinggi), namun, sampai saat ini belum tersedia satu metode kontrasepsi yang benar-benar 100% ideal/sempurna (Hartanto, 2003). Begitu juga dengan akseptor KB suntikan yang dapat mengalami efek samping berupa gangguan pola haid, penambahan berat badan, sakit kepala, dan nyeri pada payudara/rasa tidak enak pada payudara (POGI/BKKBN/Departemen Kesehatan/PKMI/JHPIEGO, 2005).
Kegagalan penggunaan metode kontrasepsi terjadi disebabkan kerena kurangnya pengetahuan wanita tersebut terhadap alat kontrasepsi itu sendiri sehingga memberikan pengaruh terhadap kondisi fisiologis, psikologis, kehidupan social dan budaya terhadap kehamilan tersebut.
Pengetahuan terhadap alat kontrasepsi  akan mendorongan Pasangan Usia Subur untuk menggunakan alat kontrasepsi yang menurut mereka cocok (http:/psikis.bkkbn.go.id/gemopria.articles.php.diakses 4 Juli 2009).
Pasangan usia subur (PUS) adalah pasangan suami istri yang istrinya berumur 15-49 tahun atau pasangan  suami istri yang istrinya berumur < 15 tahun atau > 50 tahun tetapi masih haid.( Ratna, 2008 )
Penggunaan kontrasepsi hormonal sebagai salah satu alat kontrasepsi meningkat tajam menurut World Health Organization (WHO). Dewasa ini hampir 380 juta pasangan menjalankan Keluarga Berencana dan 65 – 75 juta diantaranya terutama di Negara berkembang menggunakan kontrasepsi hormonal. Seperti kontrasepsi oral suntik dan implan kontrasepsi hormonal yang digunakan dapat memiliki pengaruh positif ataupun negatif terhadap berbagai organ wanita baik organ genetalia maupun non genetalia (Prawiroharjo, 2007).
Program Keluarga Berencana (KB) yang telah berjalan selama 40 tahun mampu mencegah terjadinya pertambahan penduduk sekitar 100 juta jiwa. Meski penduduk tetap bertambah sekitar 3,2-3,5 juta per tahun. Pada 2010, BKKBN mentargetkan terlayaninya peserta KB baru sekitar 7,1 juta peserta. Dari target itu, 3,7 juta di antaranya adalah keluarga prasejahtera, sejahtera I, dan keluarga miskin
Di Indonesia, pada tahun 2008 terdapat sekitar 38,9 juta PUS dimana sekitar 69,1% merupakan akseptor KB (26,9 juta PUS). PUS di pulau Jawa sebagai akseptor KB yang tertinggi dibanding pulau lainnya (72,9%).
Propinsi yang persen PUS sebagai akseptor KB tertinggi adalah Bali (80%) dan di Yogjakarta (79%), sedangkan yang terendah adalah Papua (18%).
Berdasarkan data di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya, Tahun 2008 jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) yang menjadi peserta program KB sebanyak 562 PUS. Untuk suntikan digunakan oleh 256 akseptor, Pil digunakan oleh 266 akseptor, implan digunakan oleh 11 akseptor, IUD digunakan oleh 19 akseptor, kondom digunakan oleh 4 akseptor, AKDR digunakan oleh 7 akseptor dan tubektomi digunakan oleh 2 akseptor.
Tahun 2009 jumlah peserta program KB sebanyak 660 PUS, Untuk suntikan digunakan oleh 429 akseptor, Pil digunakan oleh 228 akseptor, dan kondom digunakan oleh 3 akseptor.
Tahun 2010 jumlah peserta program KB sebanyak 911 PUS, Untuk suntikan digunakan oleh 608 akseptor, Pil digunakan oleh 112 akseptor, dan kondom digunakan oleh 5 akseptor. (Buku Register Wilayah Kerja Puskesmas Jayi Raya)
Dengan adanya masalah kesehatan yang dialami oleh sebagian akseptor KB yang dikarenakan efek samping dari kontrasepsi tersebut dan kurangnya Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) tentang efek samping maka besar kemungkinan seorang akseptor akan mengalami kejadian drop out atau putus pakai. Oleh karena KB suntikan merupakan salah satu cara KB yang efektif, terpilih dan banyak jumlah penggunanya, namun masih banyak juga didapatkan akseptor KB yang mengalami efek samping.
Untuk menghindari kejadian drop out atau putus pakai maka diharapkan akseptor KB suntikan dapat melakukan penanganan dari efek samping alat kontrasepsi suntikan (injectables).
Berdasarkan uraian di atas maka penulis akan melakukan penelitian mengenai “Studi kejadian efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera pada akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011”.

B.       Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada  latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana studi kejadian efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera pada akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011”?

C.      Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Mengetahui gambaran kejadian  efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera pada akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011.
2.    Tujuan Khusus
2.1  Mengetahui pengaruh keseimbangan hormon terhadap gangguan haid dan sakit kepala karena efek samping kontrasepsi suntik depo provera di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011.
2.2  Mengetahui pengaruh pola makan terhadap perubahan berat badan dan jerawat karena efek samping kontrasepsi suntik depo provera di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011.  
2.3  Mengetahui pengaruh vulva hygiene terhadap keputihan karena efek samping kontrasepsi suntik depo provera di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011.

D.      Manfaat Penelitian
Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1.    Sebagai bahan masukan atau informasi bagi pelaksana pelayanan kesehatan dalam penanganan efek samping alat kontrasepsi suntik.
2.    Sebagai informasi dan pengetahuan tambahan bagi pasangan usia subur (PUS) dalam memelihara kesehatan reproduksinya.
3.    Sebagai bahan acuan dalam memperkaya ilmu pengetahuan khususnya kejadian efek samping alat kontrasepsi suntik.
4.    Bagi peneliti dapat menambah pengalaman berharga dalam rangka menambah wawasan melalui penelitian lapangan.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Tinjauan Umum Tentang Keluarga Berencana dan Alat Kontrasepsi
1.    Tinjauan Tentang Keluarga Berencana
Keluarga Berencana merupakan suatu upaya untuk mengatur jumlah penduduk. Menurut Hartanto (2007) Keluarga Berencana adalah penggunaan cara- cara pengatur fertilitas untuk membantu seseorang atau keluarga mancapai tujuan tertentu. Tujuan yang dimaksud disini adalah suatu pengaturan kehamilan secara sengaja oleh keluarga tersebut, yang tidak melawan hukum atau perundang- undang yang berlaku dan juga moral pancasila dam untuk kesejahteraan keluarga.
Keluarga berencana (KB) adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan obyektif-obyektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kehamilan dan hubungannya dengan suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga (BKKBN, 2006)
Tujuan umum KB adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara mengatur kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya ( Manuaba, 2006)
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya ini dapat bersifat sementara dan dapat bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi infertilitas (Wiknjosastro, 2006)
 8

Ada bermacam-macam alasan pribadi untuk mengatur jumlah dan jarak anak yang diinginkan, mencegah kahamilan di luar nikah dan mengurangi resiko terjangkit Penyakit Hubungan Seksual (PHS). Secara internasional, kontrasepsi dibutuhkan untuk membatasi jumlah penduduk dunia dan menjamin ketersediaan sumber daya alam sehingga menjaga kualitas hidup manusia.( Djefri, 2008 )
Adapun sasaran program nasional KB nasional 5 tahun kedepan seperti tercantum dalam RPJM 2004-2009 antara lain :
1.    Menurunkan rata- rata laju pertumbuhan penduduk (LPP) secara nasional menjadi 14% per tahun.
2.    Menurunkan angka kelahiran Total Fertility Rate (TFR) menjadi 2,2 per perempuan.
3.    Meningkatkan peserta KB pria menjadi 4,5%
4.    Meningkatkan metode kontrasepsi yang efektif dan efisien.
5.    Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak
6.    Meningkatkan keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.
7.    Meningkatkan jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan KB dan kesejahteraan reproduksi.
2.    Tinjauan Tentang Akseptor KB
2.1  Pengertian
Akseptor KB adalah pasangan usia subur yang telah memilih dan mengunakan suatu metode kontrasepsi tertentu. Akseptor KB merupakan pasangan usia subur karena mempunyai kesempatan lebih banyak untuk reproduksi. (Hartanto,2007)
Tujuan umum pelayanan medik Keluarga Berencana adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dalam rangka mewujudkan NKKBS.Untuk mencapai keberhasilan pelayanan keluarga berencana tersebut perlu didukung oleh anggota masyarakat sebagai pendukung gerakan Keluarga Berencana dengan berpartisipasi secara aktif sebagai peserta KB atau akseptor KB.
Akseptor KB menurut sasarannya terbagi menjadi tiga fase yaitu fase menunda atau mencegah kehamilan, fase penjarangan kehamilan dan fase menghentikan atau mengakhiri kehamilan atau kesuburan.
Akseptor KB lebih disarankan untuk Pasangan Usia Subur (PUS) dengan menggunakan alat kontrasepsi. Karena pada pasangan usia subur inilah yang lebih berpeluang besar unuk menghasilkan keturunan dan dapat meningkatkan angka kelahiran.
2.2     Macam-macam Akseptor KB
Akseptor keluarga berencana yang diikuti oleh pasangan usia subur dapat dibagi menjadi tiga macam :
a)      Akseptor atau peserta KB baru, yaitu Pasangan Usia Subur yang pertama kali menggunakan kontrasepsi setelah mengalami kehamilan yang berakhir dengan keguguran atau persalinan
b)       Akseptor atau peserta KB lama, yaitu peserta yang masih menggunakan kontrasepsi tanpa diselingi kehamilan.
c)      Akseptor atau peserta KB ganti cara, yaitu peserta KB yang ganti pemakaian dari suatu metode kontrasepsi ke metode kontrasepsi lainnya.
3.    Tinjauan  tentang alat kontrasepsi
3.1     Pengertian
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan atau sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut (Gunawan, 2005).
Kontrasepsi adalah suatu cara atau alat yang digunakan untuk mencegah kehamilan. Biasanya wanita menggunakan kontrasepsi untuk menunda kehamilan petamanya dahulu atau menjarangkan kelahiran dengan anak berikutnya (Suririnah-www.Infolbu.com.diakses 27 Mei 2009).
Kontrasepsi adalah alat untuk mencegah kehamilan setelah hubungan intim. Alat ini atau cara ini sifat tidak permanen dan memungkinkan pasangan untuk mendapatkan anak apabila diinginkan. Ada berbagai macam jenis Alat kontrsepsi yang tersedia di pasaran, yang dapat dibeli dengan bebas (http://www.Kontrasespsi.com.diekses 10 Juni 2009)
3.2     Akseptabilitas
Akseptabilitas adalah syarat suatu alat kontrasepsi untuk dapat diterima oleh Akseptor. Sampai sekarang cara kontrasepsi yang ideal belum ada. Akseptabilitas suatu cara kontrasepsi ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:
a.       Dapat dipercaya
b.      Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan
c.       Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus
d.      Daya kerja dapat diatur menurut kebutuhan
e.       Tidak memerlukan motivasi secara terus- menerus
f.       Mudah penggunaannya
g.      Harga obat/alat kontrasepsi terjangkau
h.      Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang menggunakannya.
Akseptabilitas ini terbukti jika pasangan tetap mempergunakan alat kontrasepsi yang bersangkutan, dan baru berhenti jika pasangan ingin mendapatkan anak lagi, atau jika kehamilan tidak akan terjadi lagi karena umur wanita sudah lanjut atau oleh karena ia telah menjalani tubektomi atau bilaman suaminya telah divasektomi.
3.3     Efektivitas (daya guna)
Efektivitas suatu cara kontrasepsi dapat dinilai pada dua tingkat, yakni:
a.       Daya guna teoritis (theoretical effectiviness), yaitu kemampuan suatu cara kontrasepsi untuk mengurangi terjadinya kehamillan yang tidak diinginkan apabila cara tersebut digunakan terus- menerus dan sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
b.      Daya guna pemakaian (use efectiviness), yaitu kemampuan suatu cara kontrasepsi dalam keadaan sehari- hari dimana pemakaiannya dipengaruhi oleh factor- factor seperti seperti pemakaian kurang hati- hati, kurang taat pada peraturan dan sebagainya.
3.4     Tujuan Penggunaan Alat Kontrasepsi
a.       Menunda kehamilan. Pasangan dengan istri berusia di bawah 20 tahun dianjurkan untuk menunda kahamilannya. Kontrasepsi yang sesuai adalah Pil dan cara sederhana.
b.      Menjarangkan kehamilan. Masa saat istri berusia 20-30 tahun adalah yang baik untuk melahirkan dua anak dengan jarak kelahiran 3-4 tahun. Kontrasepsi yang sesuai adalah IUD, Pil, Suntik, Implan
c.       Mengakhiri kehamilan. Saat usia di atas 30 tahun dianjurkan untuk mengakhiri kesuburan setelah mempunyai dua anak. Kontrasepsi yang sesuai adalah kontrasepsi mantap (Tubektomi/Vasektomi), implan, IUD, pil, suntik, dan metode sederhana. (Wiknjosatro,2006)
3.5     Jenis – Jenis Alat Kontrasepsi
Pada umumnya cara atau metode kontrasepsi dapat dibagi menjadi :
1.    Metode sederhana yaitu cara yang dapat dikerjakannya sendiri oleh para peserta KB tanpa pemeriksaan medis terlebih dahulu.
a)      Tanpa alat atau obat. Seperti ; senggama terputus, pantang berkala dan metode amenorea laktasi (MAL)
b)      Dengan alat atau obat. Seperti ; metode kondom, diafragma, cream, jelly/spermisida
2.    Metode aktif yaitu penggunaan obat, suntikan dan alat yang mengakibatkan pencegahan efektif terhadap kemungkinan timbulnya kahamilan yang dalam penggunaannya memerlukan pemeriksaan medis.
a)      Metode suntikan terdiri atas :
·         Depo provera yang mengandung medroxyprogestin acetate 150 mg diberikan sekali setiap 3 bulan.
·         Cyclofem yang mengandung medroxyprogesteron acetate 25 mg  dan 5 mg estradiol cypionate ( suntik 1 bulan )
·         Norethindrone enanthate (Noresterat) 200 mg yang mengandung derivate testosteron. Diberikan setiap 8 minggu atau sekali setiap 8 minggu untuk 6 bulan pertama kemudian selanjutnya sekali setiap 12 minggu.
b)      Pil KB, yaitu kontrasepsi hormonal yang diberikan pada hari ke 5-25 siklus haid dan dapat menghambat ovulasi. Ada beberapa macan jenis pil KB, yaitu :
·         Pil kombinasi, yaitu dalam satu pil terdapat estrogen maupun progestinsintetik. Pil diminum selama 3 minggu diikuti dengan 1 minggu tanpa pil atau placebo.
·         Pil sekuensial, yaitu pil yang diminum selama 14-15 hari pertama yang diberikan estrogen, selanjutnya kombinasi  estrogen dan progesterone sampai siklus haid selesai.
·         Pil mini, yaitu pil yang hanya mengandung progestin saja tanpa estrogen. Dosis progestinnya kecil 0,5 mg atau kurang. Pil mini harus diminum setiap hari, juga pada waktu haid.
c)      Alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK), adalah salah satu alat kontrasepsi KB, yang biasanya pemasangannnya dilakukan di bagian bawah kulit pada lengan kiri yang terdiri dari plastik lembut bertujuan untuk mencegah kahamilan
d)     Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rongga rahim dengan tujuan mencegah kehamilan. Cara kerja AKDR akan meningkatkan motilitas tuba sehingga kondisi endometrium tidak siap untuk implementasi, dan juga dapat meningkatkan produksi prostaglandin sehingga memperbesar kemungkinan ekspulsi hasil pembuahan.
e)      Kontrasepsi mantap yaitu suatu metode operasi yang dapat dilakukan pada wanita (Tubektomi) dan pada pria (Vasektomi)

B.       Tinjauan Umum tentang Alat Kontrasepsi Suntik Depo Provera
Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui sutikan hormonal. Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif. pemakaiannya yang praktis, harganya relatif murah dan aman
KB suntik adalah kontrasepsi yang menyuntikkan suatu sintesa progestin yang mempunyai efek seperti progesterone asli dari tubuh wanita. (Sarwono Prawirohardjo. 2006)
Salah satu tujuan utama dari kontrasepsi ini adalah untuk mengembangkan suatu metode kontrasepsi yang berdaya kerja panjang (lama), yang tidak membutuhkan pemakaian setiap hari atau setiap akan bersenggama, tetapi tetap reversibel.

Kontrasepsi suntik depo provera yang mengandung Depo Medroxyprogestin Acetate (DMPA) 150 mg yang hanya berisi hormon progesterone dan tidak mengandung estrogen. Daya kerja kontrasepsi DMPA adalah 150 mg setiap 3 bulan dan merupakan dosis yang tinggi. Setelah suntikan 150 mg DMPA, ovulasi tidak akan terjadi untuk minimal 14 minggu. Depo Medroxyprogesteron Asetat (DMPA) diberikan dengan cara disuntikkan secara intra muskuler (Hartanto, 2003).
1.    Cara kerja KB suntik
1.1  Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum untuk terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan releasing faktor dari hipotalamus.
1.2  Mengentalkan lender serviks sehingga sulit untuk ditembus oleh spermatozoa
1.3  Merubah suasana endometrium sehingga menjadi tidak sempurna untuk implantasi dari hasil konsepsi
1.4  Mencegah terjadinya pertemuan sel telur & sperma
1.5  Mengubah kecepatan transportasi sel telur.
2.      Efektivitas
Kontrasepsi suntik progestin memiliki efektivitas yang sangat tinggi, dengan 0,3 kehamilan per 100 perempuan per tahun, asal penyuntikan dilakukan sesuai jadwal dan secara teratur.


3.    Keuntungan dan Kerugian (Hartanto.H,2003)
3.1  Keuntungan
3.1.1        Noristerat pemberiannya sederhana diberikan 200 mg sekali setiap 8 minggu untuk 6 bulan pertama 3 x suntikan pertama kemudian selanjutnya sekali tiap 12 minggu.
3.1.2        DMPA pemberiannya diberikan sekali dalam 12 minggu dengan dosis 150 mg
3.1.3        Tingkat efektifitasnya tinggi dan reaksi suntik sangat cepat (<24 jam)
3.1.4        Dapat digunakan oleh wanita tua (>35 tahun), kecuali Cyclofem
3.1.5        Tidak mengganggu pengeluaran laktasi (kecuali cyclofem) dan tumbuh kembang bayi
3.1.6        Suntikan tidak ada hubungannya dengan saat bersenggama
3.1.7        Tidak perlu menyimpan atau membeli persediaan.
3.1.8        Kontrasepsi suntikan dapat dihentikan setelah 3 bulan dengan cara tidak disuntik ulang, sedangkan IUD dan implant yang non-bioderdable harus dikeluarkan oleh orang lain.
3.1.9        Bila perlu, wanita dapat menggunakan kontrasepsi suntikan tanpa perlu memberitahukan kepada siapapun termasuk suami atau keluarga lain.


3.1.10    Tidak ditemukan efek samping minor seperti pada POK yang disebabkan estrogen, antara lain mual atau efek samping yang lebih serius seperti timbulnya bekuan darah disamping estrogen juga dapat menekan produksi ASI.
3.2  Kerugian
3.2.1        Sering ditemukan gangguan haid, seperti :
·         Siklus haid yang memendek atau memanjang
·         Perdarahan yang banayk atau sedikit
·         Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak
·         Tidak haid sama sekali
3.2.2        Berat badan yang bertambah
3.2.3        Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini akan hilang setelah suntikan kedua atau ketiga.
3.2.4        Kembalinya kesuburan agak terlambat beberapa bulan
3.2.5        Jika terdapat atau mengalami side efek dari suntikan tidak dapat ditarik lagi.
3.2.6        Masih mungkin terjadi kehamilan, karena mempunyai angka kegagalan 0.7%.
3.2.7        Pemberiannya harus dilakukan oleh orang yang profesional
3.2.8        Menimbulkan rasa sakit akibat suntikan
3.2.9        Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru atau otak, dan kemungkinan timbulnya tumor  hati.
4.      Yang Dapat Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Depo Provera
4.1  Usia reproduksi
4.2  Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan memiliki efektivitas tingg
4.3  Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
4.4  Setelah melahirkan dan tidak menyusui
4.5  Setelah abortus atau keguguran
4.6  Perokok
4.7  Tekanan darah kurang dari 180/110 mmHg, dengan masalah gangguan pembekuan darah atau anemia
4.8  Menggunakan obat untuk epilepsi atau obat tuberklosis
4.9  Tidak dapat menggunakan kontrasepsi yang mengandung esteroge
4.10           Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
4.11           Mendekati usia menopause
5.      Yang Tidak Boleh Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Depo Provera
5.1  Hamil atau dicurgai hamil
5.2  Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
5.3  Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid
5.4  Menderita kanker payudara
5.5  Diabetes mellitus

6.    Saat Pemberian yang Tepat ( Wiknjosastro,2006)
6.1  Pasca persalinan
6.1.1        Segera diberika ketika masih di Rumah Sakit atau setelah 6 minggu post partum dan sebelum berkumpul dengan suami.
6.1.2        Tepat pada jadwal suntikan berikutnya.
6.2  Pasca Abortus
6.2.1        Segera setelah perawatan atau sebelum 14 hari
6.2.2        Jadwal waktu suntikan yang diperhitungkan.
6.3  Interval.
6.3.1        Hari kelima menstruasi
6.3.2        Jadwal waktu suntikan diperhitungkan.
7.    Indikasi dan Kontra Indikasi ( Saifuddin,A.B,2003)
7.1  Indikasi
Indikasi dalam pemakaian suntik DMPA diantaranya adalah menginginkan penjarangan kehamilan untuk paling sedikitnya satu tahun, kontrasepsi kerja lama yang sangat efektif dan tidak terkait dengan sanggama, menyusui, penyakit sel sabit atau thalasemia dan gangguan kejang.
7.2  Kontra indikasi
7.2.1        Tersangka hamil
7.2.2        Perdarahan ginekologi ( perdarahan melalui vagina yang tidak diketahui penyebabnya)

7.2.3        Tumor/keganasan
7.2.4        Penyakit jantung, hati, hipertensi, DM, penyakit paru-paru hebat.
8.     Cara Penggunaan ( Saifuddin AB,2005).
Depo provera atau Depo progestin disuntikan secara intra muscular tiap 12 minggu dengan kelonggaran batas waktu suntik, biasa diberikan kurang satu minggu.
9.      Komplikasi penggunaan kontrasepsi suntik depo provera
9.1  Komplikasi
Rasa sakit dan panas didaerah suntikan. Bila terdapat abses teraba adanya benjolan yang nyeri di daerah suntikan. Biasanya diakibatkan karena pemakaian jarum suntik yang berulang dan tidak suci hama
9.2     Penanggulangan
9.2.1        Pemberian antibiotic dosis tinggi ( Ampicilin 500 mg, 3 x 1 tablet /hari ).
9.2.2        Bila abses, berikan kompres untuk mendinginkan infeksi /mematangkan abses misalnya kompres permanganas atau rivanol.
9.2.3        Bila ada fluktuasi pada abses, dapat dilakukan insisi abses, setelah itu diberikan tampon dan drain jangan lupa berikan antibiotic sperti penatalaksanaan pada infeksi.




C.  Tinjauan Tentang Pengaruh Kontrasepsi Suntik Depo Provera Terhadap Kejadian Efek Samping
1.      Efek samping penggunaan kontrasepsi suntik depo provera
Efek samping adalah dampak dari obat-obatan yang tidak di inginkan. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia efek samping adalah akibat atau gejala yang timbul secara tidak langsung disamping proses utamanya. Efek samping Depo Medroxyprogestin Acetate (DMPA) adalah dampak dari DMPA yang tidak diinginkan.Kontrasepsi suntik depo provera mengandung Depo Medroxyprogestin Acetate (DMPA) 150 mg yang hanya berisi hormon progesteron dan tidak mengandung estrogen.
Kontrasepsi suntik depo provera  memiliki beberapa efek samping antara lain :
1.1  Gangguan Haid
1.1.1        Amenorhoe yaitu tidak datang haid setiap bulan selama menggunakan kontrasepsi suntikan kecuali pada pemakaian cyclofem
1.1.2        Spotting yaitu bercak-bercak perdarahan diluar haid yang terjadi selama menggunakan kontrasepsi suntikan
1.1.3        Metrorhagia yaitu perdarahan yang berlebihan jumlahnya.
1.2  pusing dan sakit kepala
Rasa berputar /sakit kepala, yang dapat terjadi pada satu sisi, kedua sisi atau keseluruhan dari bagian kepala . Ini biasanya bersifat sementara.


1.3  Perubahan barat badan
Berat badan bertambah beberapa kilogram dalam beberapa bulan setelah menggunakan kontrasepsi suntikan
1.4  Jerawat
Gejala dan keluhan dalam timbulnya jerawat yaitu timbulnya jerawat di wajah atau badan yang dapat disertai infeksi atau tidak (Suratun, 2008).
1.5  Keputihan
Adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari jalan lahir dan terasa mengganggu ( jarang terjadi).
2.      Pengaruh KB suntik depo privera terhadap kejadian efek samping
2.1  Keseimbangan hormon
2.1.1        Pengertian
Hormon (dari bahasa Yunani : “yang menggerakkan”) adalah pembawa pesan kimiawi antarsel atau antar kelompok sel. Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin yang mempunyai efek tertentu pada aktifitas organ-organ lain dalam tubuh.
Karena sekresinya yang akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh maka apabila hormon telah sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang.
Fungsi utama hormon progesteron lebih pada sistem reproduksi wanita yaitu :
a.       Fungsi utamanya mempertahankan berlangsungnya kehamilan
b.      Berpengaruh terhadap alat genitalia wanita dam mamma
c.       Mengatur siklus haid
Mengatur siklus menstruasi bersama dengan hormon estrogen dengan melalui feedback mekanisme terhadap FSH dan LH. Sekresi secara bergantian hormon-hormon ini menentukan siklus menstruasi.
d.      Mempertebal dinding endometrium untuk persiapan proses implantasi jika terjadi fertilisasi antara ovum dan sperma.
e.       Berpengaruh terhadap membrane plasma, dimana progesterone dapat mengubah permebealitasnya dan dalam sitoplasma dapat mengubah enzim sel.
f.       Melindungi wanita pasca menopause terhadap kanker endometrium.
Melihat dari betapa besar fungsi hormon progesteron dalam tubuh, maka kekurangan progesteron dapat sangat berpengaruh bagi penderita. Pengaruh-pengaruh yang mungkin terjadi antara lain :
a.    Terganggunya siklus menstruasi
a)      Nyeri berlebihan selama siklus menstruasi
b)      Tidak terjadinya ovulasi
c)      Meningkatnya resiko keguguran
d)     Meningkatnya stres dan rasa tidak nyaman selama kehamilan, terutama pada trimester I.
e)      Gangguan tidur (insomnia) yang dapat berakibat buruk pada perkembangan janin.
f)       Menurunnya daya ingat
g)      Keringnya mukosa vagina
h)      Nyeri sendi dan infeksi saluran kencing
b.    Pasca persalinan
a)      Depresi
Selama hamil, kadar progesteron selalu terjaga karena tubuh terus menerus menghasilkan hormon ini melalui plasenta. Setelah melahirkan, plasenta berhenti memproduksi sehingga kadar progesteron mendadak turun. Menurut penelitian yang dilakukan NaProTechnology, penurunan kadar progesteron berkaitan dengan terjadinya depresi setelah melahirkan (postpartum depression). Kadang-kadang depresi yang ditandai dengan gejala selalu sedih dan gelisah serta mudah menangis ini bisa berlangsung hingga 6 bulan.
b)      Retensi cairan
Retensi atau penumpukan cairan sering terjadi setelah melahirkan, sebagai akibat dari berkurangnya kadar progesteron. Biasanya kondisi ini ditandai dengan pembengkakan (edema) terutama dibagian kaki dan tangan.

Hal ini terjadi karena pada siklus normal, progesteron juga berfungsi sebagai diuretic. Oleh progesteron, kelebihan carain yang terdapat dibeberapa jaringan tubuh akan dikeluarkan melalui urin.
c)      Siklus menstruasi yang tidak teratur
Dalam siklus yang normal, menstruasi terjadi ketika kadar progesteron mendadak turun sebagai sinyal bagi dinding rahim untuk luruh. Kekurangan progesteron menyebabkan dinding rahim tidak luruh tepat pada waktunya, karena perubahan komposisi hormonal tidak terjadi secara drasti.Gangguan pada siklus menstruasi merupakan keluhan yang sering dialami para ibu setelah melahirkan. Selain kadar hormon progesteron belum normal, produksi Air Susu Ibu (ASI) juga sering dituding sebagai pemicunya
Adapun penyebab kekurangan hormon progesteron antara lain sebagai berikut :
a.    Stres
Aktifitas yang padat dan beban kerja yang berat dapat menimbulkan stres. Hal inilah yang memicu terhentinya produksi hormon sehingga menyebabkan terjadinya kekurangan progesteron.


b.    Diet
Pola makan sehari-hari juga memberikan kontribusi dalam ketidakseimbangan hormon. Hal ini terjadi karena kebiasaan mengkonsumsi makanan yang  secara tidak langsung mengandung estrogen, seperti daging ayam, sapi, serta babi yang diternakkan yang diberikan makanan tambahan  berupa hormon estrogen demi memepercepat pertumbuhannya.
c.    Kontrasepsi
Kebanyakan pil kontasepsi menggunakan progestin sebagai terapi pengganti hormon. Progestin memiliki sifat yang tidak sama dengan progesteron alami, sehingga hanya akan memicu meningkatnya kadar hormon estrogen didalam tubuh.
d.   Lingkungan
Tanpa kita sadari tubuh kita sehari-hari telah banyak menerima paparan estrogen sintesis seperti yang terkandung dalam deterjen, pestisida serta berbagai macam produk perawatan kecantikan. Stimulus paparan yang terjasi secara terus-menerus ini memberikan dampak negatif terhadap reseptor estrogen dalam tubuh, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mengacu pada keadaan estrogen dominan.


Adapun pengaruh kelebihan hormon progesteron adalah sebagai berikut :
a.       Pasien tampak kelelahan
b.      Kehiangan gairah seksual
c.       Ketidakstabilan emosi
d.      Kembung dan nafsu makan berkurang
e.       Siklus menstruasi tidak teratur
Hormon progesteron hanya akan berada dalam keadaan over supply apabila pasien mengkonsumsi suplemen serta obat-obatan yang mengandung progesteron dalam dosis yang tinggi, yang dalam hal ini tidak sesuai dengan kebutuhan.
2.1.2        Pengaruh keseimbangan hormon terhadap gangguan haid dan sakit kepala
2.1.2.1  Gangguan haid
Pada pemakaian kontrasepsi suntikan dapat menyebabkan gangguan haid. Hal ini terjadi akibat pengaruh hormonal suntikan dan biasanya gejala-gejala perdarahan tidak berlangsung lama.
Gangguan pola haid dari penggunaan kontrasepsi suntik depo provera adalah :
a)      Gangguan pola haid amenorrea disebabkan karena terjadinya atrofi endometrium yaitu kadar estrogen turun dan progesteron meningkat sehingga tidak menimbulkan efek yang berlekuk – lekuk di endometrium (Wiknjosastro, 2006)
b)      Gangguan pola haid spotting disebabkan karena menurunnya hormon estrogen dan kelainan atau terjadinya gangguan hormon (Hartanto, 2003)
c)      Gangguan pola haid metroraghia disebabkan oleh kadar hormon estrogen dan progesteron yang tidak sesuai dengan kondisi dinding uterus (endometrium) untuk mengatur volume darah menstruasi dan dapat disebabkan oleh kelainan organik pada alat genetalia atau kelainan fungsional.
Apabila pasien ingin mendapat haid, dapat diberikan pemberian Pil KB hari I sampai ke II masing masing 3 tablet, selanjutnya hari ke IV diberikan 1 x 1 selama 3 – 5 hari. Bila terjadi perdarahan, dapat pula diberikan preparat estrogen misalnya : Lymoral 2 x 1 sehari sampai perdarahan berhenti. Setelah perdarahan berhenti, dapat dilaksanakan “tepering off” ( 1 x 1 tablet ).
2.1.2.2  Pusing dan sakit kepala
Efek samping tersebut mungkin ada tetapi jarang terjadi dan biasanya bersifat sementara. Pusing dan sakit kepala disebabkan karena reaksi tubuh terhadap progesteron sehingga hormon estrogen fluktuatif (mengalami penekanan) dan progesteron dapat mengikat air sehingga sel – sel di dalam tubuh mengalami perubahan sehingga terjadi penekanan pada syaraf otak. Penanganan efek samping ini berupa pemberian anti prostaglandin untuk mengurangi keluhan acetosal 500mg, 3 x 1 tablet/hari.
2.2  Pola makan
2.2.1   Pengertian
Pola makan yang sehat adalah makanan mengandung semua unsur gizi seimbang sesuai kebutuhan tubuh, baik protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air. Diet ketat bukanlah cara sukses mencapai berat badan ideal. Untuk bisa menurunkan dan mempertahankan berat badan dengan memadukan pola makan sehat ke dalam gaya hidup sehari-hari. Beberapa langkah berkaitan dengan pola makan yang sehat adalah :
a.       Pilih makanan rendah lemak
Setiap gram lemak mengandung lebih banyak kalori dibandingkan setiap gram protein atau karbohidrat. Jika makan daging, pilihlah ayam tanpa kulit atau daging rendah lemak dalam porsi kecil. sumber lemak penyebab obesitas dan ganguan kardiovaskular. Pilih daging tanpa lemak, makanan berkuah bening, susu rendah lemak, susu kedelai, yogurt, putih telur, dan ikan sebagai sumber protein yang baik.
Selain itu, membatasi penggunaan minyak dan mentega. Pilih produk susu, seperti susu bebas lemak, keju rendah lemak dan yogurt rendah lemak.
b.      Tambah asupan serat
Serat membuat kenyang lebih cepat dengan kalori yang lebih sedikit sehingga mencegah makan berlebih. Sebuah studi dari Brooke Army Medical Center di Houston Texas menemukan, pectin (serat larut) yang terkandung dalam kulit buah dan sayuran bisa membuat orang kenyang lebih lama. Untuk memperbanyak asupan serat pilih buah, sayuran, kacang polong dan whole grain (seperti roti whole wheat, beras merah dan sereal whole grain) sebagai bahan dasar diet. Selain badan menjadi sehat dan bugar, andapun terbebas dari risiko beragam penyakit seperti kanker karena kebanyakan buah dan dan sayuran mengandung serat yang dapat mengikat zat karsinogen penyebab kanker saluran pencernaan. Selain itu dapat mengontrol peningkatan berat badan yang akan menimbulkan obesitas.
c.       Porsi sedang
Tidak ada makanan yang buruk jika dikonsumsi dalam jumlah sedang. Makanan rendah lemak  akan memicu pertambahan berat badan jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih. Oleh karena itu pilih makanan dalam jumlah sedang.
d.      Perbanyak minum air putih
Minum air putih minimal 8 gelas sehari, hindari minuman beralkohol, bersoda dan minuman dengan kandungan gula dan kafein tinggi. Jus sayuran dan buah juga baik untuk menjaga dan memelihara kesehatan tubuh.
e.       Hindari bahan pangan atau makanan yang berpengawet.
Pilih bahan pangan yang tidak berpengawet karena zat ini bisa menjadi pemicu kanker.

f.       Perhatikan jumlah sajian per kemasan
Teknik pengolahan makanan juga mempengaruhi mutu makanan. Pilih makanan dengan metode memasak di kukus, di rebus atau di tumis dengan sedikit minyak. Metode menggoreng, memanggang dan di bakar kurang disarankan, selain mengandung banyak lemak, metode memasak ini juga merusak nilai gizi makanan karena panas tinggi.
2.2.2   Pengaruh pola makan terhadap perubahan berat badan dan jerawat
2.2.2.1  Perubahan berat badan
Kenaikan berat badan adalah salah satu efek samping kontrasepsi suntikan. Kenaikan berat badan dapat juga disebabkan hal-hal lain. Hipotesa para ahli : DMPA merangsang pusat pengendalian nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya. Disamping itu dapat pula terjadi penurunan berat badan.
Perubahan BB kemungkinan disebabkan karena hormon progesteron mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak, sehingga lemak banyak yang bertumpuk di bawah kulit dan bukan merupakan karena retensi (penimbunan) cairan tubuh.



Pengaturan diet merupakan pilihan yang utama. Dianjurkan untuk melaksanakan diet rendah kalori disertai olahraga teratur dan sebagainya. Bila terlalu kurus dianjurkan untuk diet tinggi kalori, bila berhasil dianjurkan untuk ganti cara ke kontrasepsi non hormonal (Suratun, 2008).
2.2.2.2  Jerawat
Pada pemakaian kontrasepsi suntikan dapat menyebabkan gejala-gejala tersebut adalah akibat pengaruh hormonal suntikan. Penyebabnya adalah progestin terutama 19-morprogestin menyebabkan peningkatan kadar lemak.
Dianjurkan kurangi makanan berlemak disertai dengan menjaga kebersihan wajah dan sebagainya. Bila semakin bertambah, anjurkan menggunakan kontrasepsi lain.
Penanggulangan yang dilakukan dalam menghadapi timbulnya jerawat yaitu pemberian vitamin A dan vitamin E dosis tinggi. Bila disertai infeksi dapat diberikan preparat tetracycline 250mg 2 X 1 kapsul selama 1 atau 2 minggu (Suratun, 2008)
2.3  Vulva hygiene
2.3.1   Pengertian
Vulva hygiene adalah membersihkan vulva dan daerah sekitarnya dari arah depan sampai belakang kemudian membersihkan daerah anus.
2.3.1.1  Tujuan dari vulva hygiene
a.       Untuk mencegah infeksi
b.      Untuk kebersihan perineum, vulva juga memberikan rasa nyaman bagi klien.
2.3.1.2  Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan alat kelamin adalah sebagai berikut :
a.       Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, kemudian membersihkan daerah anus. Nasihati ibu untuk membersihkan vulva setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
b.      Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari dan disetrika.
c.       Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya
2.3.2   Pengaruh vulva hygiene terhadap keputihan
Kontrasepsi suntikan jarang terjadi keputihan. Bila hal ini terjadi juga, harus dicari penyebabnya dan segera di berikan pengobatan. Keputihan disebabkan karena adanya infeksi, jamur atau kandida (Suratun, 2008). Anjurkan untuk menjaga kebersihan alat genetalia dan pakaian dalam agar tetap bersih dan kering. Bila keputihan sangat mengganggu sebaiknya dirujuk untuk mendapatkan pengobatan yang tepat (Suratun, 2008).
Pengobatan medis biasanya tidak diperlukan. Pada kasus dimana cairan berlebihan dapat diberikan preparat Anti Cholinergis seperti extrabelladona 10 mg dosis 2 x 1 tablet untuk mengurangi cairan yang berlebihan. Perubahan warna dan bau biasanya disebabkan oleh adanya infeksi.

D.  Kerangka Pemikiran
Adapun kerangka pemikiran  penelitian ini sebagai berikut :
Keseimbangan hormon
 

                                                                    

Kejadian efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera
Pola makan
 



Vulva hygiene
                                                                                                   



Gambar 1. Kerangka Pemikiran penelitian


Keterangan :
                                                      : variabel independen
                             
                                                      : variabel dependen
                                                      : hubungan variabel yang diteliti        
     
E.  Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
1.    Ho    : Tidak ada pengaruh keseimbangan hormon terhadap gangguan haid dan sakit kepala karena efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera.
Ha      : Ada pengaruh keseimbangan hormon terhadap gangguan haid dan sakit kepala  karena efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera.
2.    Ho      : Tidak ada pengaruh pola makan terhadap perubahan berat badan dan jerawat karena efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera.
Ha      :  Ada pengaruh pola makan terhadap perubahan berat badan dan jerawat karena efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera.
3.    Ho     : Tidak ada pengaruh vulva hygiene terhadap keputihan karena efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera.
Ha     : Ada pengaruh vulva hygiene terhadap keputihan karena efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera.
















BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan secara case control. Survey case control adalah suatu penelitian (survey)  analitik yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan “retrospective”. Dengan kata lain, efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini, kemudian faktor resiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu. (Notoatmodjo,2005) dimana penelitian diarahkan untuk mengetahui gambaran kejadian efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera pada akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011.










Rancangan penelitian case control ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Akseptor KB mengalami efek samping kontrasepsi depo provera
Keseimbangan                                                                                                 hormon, pola    (+)                                                                                    makan, vulva                   Retrospektif                                                             hygiene                                                                                                                                                                                                                                                              
Populasi (sampel)
Keseimbangan                                                                                                hormon, pola     (-)                                                                                                 makan, vulva                                                                                                                                                 hygiene                                                      
 
                                                                  
Akseptor KB tidak mengalami efek samping kontrasepsi depo provera

Keseimbangan                                                                                                horman, pola     (+)                                                                                                 makan, vulva                    Retrospektif                                                                                                           hygiene                                                                           
Keseimbangan                                                                                                                                              hormon, pola                                                                                                      makan, vulva      (-)                                                                                                                                                     hygiene









B.       Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan setelah ujian proposal dan perbaikan yang bertempat di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011.

C.      Populasi Dan Sampel
1.    Populasi
Populasi adalah setiap subjek (misalnya: manusia, binatang, dll) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam,2007).
Sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah semua Pasangan Usia Subur (PUS) yang menjadi akseptor KB suntik depo provera di Wilayah Kerja Puskesmas Jati Raya tahun 2011.
2.    Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. (Sugiyono, 2004:56)
Sampel dalam penelitian ini adalah
2.1  Kasus
Semua akseptor KB yang mengalami efek samping  alat kontrasepsi suntik depo provera  dan terdaftar dalam register Puskesmas Jati Raya yang berjumlah 35 orang.
2.2  Kontrol
Akseptor KB yang tidak mengalami efek samping alat kontrasepsi suntik depo provera dan terdaftar dalam register Puskesmas Jati Raya yang berjumlah 35 orang.
3.    Cara pengambilan sampel
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah :
3.1  Kasus     : menggunakan teknik total sampling sebanyak 35 kasus.
3.2     Kontrol  : menggunakan teknik non random sampling yaitu purposive sampling sebanyak 35 kontrol.

D.      Instrumen Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data diperoleh dari :
1.      Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari hasil wawancara terpimpin dengan menggunakan daftar pertanyaaan berupa kuesioner (angket) terhadap responden.
2.      Data sekunder yaitu data yang diambil dari hasil pendataan berdasarkan Buku Register Puskesmas Jati Raya.

E.       Pengolahan Dan Analisa Data
1.    Pengolahan Data
Pengolahan data yang dilakukan antara lain:
1.1   Editing data dan kuesioner yang telah diisi.
1.2   Pengkodean jawaban dari responden.
1.3   Penentuan variabel yang akan dihubungkan.
1.4   Pemasukan data ke perangkat komputer.
1.5   Pembuatan tabel.

2.    Analisa Data
2.1  Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Dengan menggunakan distribusi frekuensi untuk mengetahui gambaran terhadap variabel yang diteliti.
2.2  Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan dan membutikan hipotesis dua variabel.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan pengujian hipotesis nol untuk membandingkan antara kasus dan control terhadap factor resiko dengan menggunakan uji statistic Odds Ratio ( OR) dengan rumus sebagai berikut :
OR = axd
          bxc

2.2.1    Tabel sebaran OR sebagai berikut :
Tabel 1.
Perbandingan antara kasus dan control terhadap faktor resiko
Kategori
Faktor resiko positif
Factor resiko negatif
Total
Efek Positif
(Ada efek Samping KB suntik depo provera)
a
b
a+b
Efek negatif (tidak ada efek samping KB suntik depo provera)
c
d
c+d
Total
a + c
b+d
a+b+c+d
                             
                              Keterangan :
                              a     =          jumlah kasus dengan resiko (+)
                              b    =         jumlah control dengan resiko (+)
                              c     =         jumlah kasus dengan resiko (-)
                              d    =          jumlah control dengan resiko (-)
2.2.2    Estimasi Coefisien Interval (CI) ditetapkan pada tingkat kepercayaan
95% dengan interpretasi :
Jika OR > 1 artinya faktor yang diteliti merupakan faktor resiko
Jika OR = 1 artinya bukan merupakan faktor resiko
Jika OR < 1 artinya ada efek proteksi ( Muliono, 2006)
Hubungan dikatakan bermakna apabila nilai lower limit dan upper limit tidak mencukupi nilai 1 ( Ho ditolak )
Upper limit : OR X e+F
Lower limit : OR X e-F
            Dimana,  F   = 1,96 x 1/a+1/b+1/c+1/d
                            e   =  log nature ( 2,72 )       ( Candra, 2005)

F.   Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
1.    Keseimbangan hormon
Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin yang mempunyai efek tertentu pada aktifitas organ-organ lain dalam tubuh.
Kriteria objektif :
1.1  Positif apabila ada pengaruh keseimbangan hormon terhadap gangguan haid karena efek samping kontrasepsi suntik depo provera
1.2  Negatif apabila tidak ada pengaruh keseimbangan hormon terhadap gangguan haid karena efek samping kontrasepsi suntik depo provera
2.    Pola makan
Pola makan yang sehat adalah makanan yang mengandung semua unsur gizi seimbang sesuai kebutuhan tubuh, baik protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air
Kriteria objektif :
2.1  Positif apabila ada pengaruh pola makan terhadap perubahan berat badan karena efek samping kontrasepsi suntik depo provera
2.2  Negatif apabila tidak ada pengaruh pola makan terhadap perubahan berat badan karena efek samping kontrasepsi suntik depo provera
3.    Vulva hygiene
Vulva hygiene adalah membersihkan vulva dan daerah sekitarnya dari arah depan sampai belakang kemudian membersihkan daerah anus.

Kriteria objektif :
1.1  Positif apabila ada pengaruh vulva hygiene terhadap keputihan karena efek samping kontrasepsi suntik depo provera
1.2  Negatif apabila tidak ada pengaruh vulva hygiene terhadap keputihan karena efek samping kontrasepsi suntik depo provera

G.  Penyajian Data
Penyajian data yang dilakukan oleh peneliti dalam bentuk tabel yang disertai penjelasan dari table tersebut, agar pembaca dapat dengan mudah mengetahui isi dari penelitian ini.




Daftar Isi

Welcome to Kumpulan Materi Keperawatan

Bismillah, Alhamdulillah, My Name is Ilham Burhanuddin and my nickname is Ilo and I was born in kendari on Juli 15, 1986. I’m Blogger from Indonesia. I hope all my Posts is usefull for all of you. Thanks for visit here and support me. The text, images and the tutorials themselves are under copyright of their respective author, so you cannot copy them either in english or in any other translated language. Also the Blogger Templates and Widgets provided on this website are licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License, which permits both personal and commercial use. However, to satisfy the ‘attribution’ clause of the license, you are required to keep the footer links intact which provides due credit to its authors.

Social Stuff

  • RSS
  • Twitter
  • Facebook
  • HOME
Info